Computing Power and Information Power

Pada tulisan saya terdahulu sudah saya jelaskan, bahwa perbandingan kekuatan antara orang yang hidup dengan paradigma = revolusi pertanian : revolusi industri : revolusi informasi = 1 : 10 : 1000, pertanyaannya bagaimanakah petunjuk sederhananya untuk hidup dengan menggunakan paradigma revolusi informasi? Jawabannya sederhana yaitu manfaatkanlah “Computing Power” dan “Information Power” era informasi sebanyak mungkin.

Kita tahu bahwa komputer sanggup melaksanakan perhitungan 1.000.000 kali lebih cepat daripada manusia. Bilangan ini berarti bahwa 1 detiknya kerja komputer, setara dengan 2 tahun kerja manusia. Bila perbulan sederhananya orang minta gaji 1/2 juta rupiah, maka 2 tahun setara dengan 12 juta rupiah. Dengan kata lain tiap detik kerja komputer mengandung potensi seharga 12 juta rupiah. Barangkali ini terdengar terlalu dilebih-lebihkan, tetapi sesungguhnya ini nyata. Sebuah contoh : ada seorang sekretaris yang minta dibelikan komputer hanya untuk mengetik surat mengganti mesin ketik manualnya, karena dengan komputer itu dia akan dapat menyelesikan 25 surat sehari dibandingkan hanya 5 surat sehari bila menggunakan mesin ketik manual. Sebaiknyakah dia dibelikan? Jawabnya “ya”. Karena dengan komputer produktivitasnya naik 5 x lipat.

Bila dihitung dengan uang, dengan gaji 1/2 juta rupiah perbulan, maka dalam waktu setahun produktivitasnya setara dengan 30 juta rupiah dengan gajinya sebesar 6 juta rupiah pertahun. Bila harga komputer plus printernya 9 juta rupiah, maka perusahaannya masih laba 15 juta rupiah. Darimana asalnya 15 juta rupiah? Jawab : dari potensi Computing Power komputer. Ketika komputer dipakai “apa saja, dimana saja, siapa saja”, maka potensi rupiah computing power tergali keluar dan kita nikmati. Sekarang kita bahas masalah “Information Power”. Ini berkaitan dengan Internet. Di Internet sesungguhnya terkandung potensi Informasi yang bagaikan harta karun juga. Pernah suatu kali tangan saya kena besi panas. Wah obatnya apa ya? Kalau ke dokter perlu waktu dan bayar uang. Kalau cari di buku kesehatan bukunya punya enggak ya? Daripada sulit-sulit, buka saja Internet dan kita goggling dengan keyword “obat luka bakar”, eh langsung keluar jawabannya. Apa ini tidak luar biasa? Contoh lain, suatu hari anak saya yang SD tanya berkaitan dengan pelajaran di sekolah “Siapa ya anaknya Baladewa (tokoh pewayangan)?” Wah, ini sulit, dalangpun belum pasti tahu. Tapi tak usah kuatir, kita goggling saja, dan … keluar jawabannya. Inilah “Information Power”. Ada banyak informasi berharga lain ada di Internet. Jadi pada masa sekarang, “siapa saja, kapan saja, untuk apa saja” goggling lah di Internet. Jadi pada masa sekarang manfaatkanlah Information Power dan Computing Power. Itulah caranya untuk berada pada gelombang era informasi.

Teknologi dan “masa kini”

Pada “masa kini” , ekonomi dunia ada dalam 2 bentuk, yaitu (1) ekonomi moneter dan (2) ekonomi sektor riil. Keduanya adalah dunia yang berbeda walaupun ada hubungannya. Kalau mau cepat kaya, maka bergeraklah dalam dunia ekonomi moneter : beli saham, pasar uang dll. Tetapi dunia moneter sebenarnya sangat rapuh, karena landasannya adalah kepercayaan masyarakat. Ketika masyarakat percaya kepada ekonomi moneter yang ada, maka kuatlah ekonomi moneter tersebut.

Ketika masyarakat kehilangan kepercayaan pada ekonomi moneter, maka dengan cepat runtuhlah ekonomi moneter tersebut. Bisa cepat kaya, tetapi juga bisa dengan cepat jadi miskin. Sedangkan ekonomi riil, berlandaskan pada keberadaan barang/jasa. Selama barang/jasa ada, maka ekonomi riil kuat, mau saham jatuh ataupun devaluasi mata uang, selama orang memegang barang/jasa maka ekonominya aman. hanya memang untuk bisa kaya lewat sektor riil tidak bisa secepat disektor moneter. Tetapi juga bila ada bencana pemilik ekonomi riil tak akan mudah jatuh miskin.

Tergantung pilihan kita, akan berprofesi di sektor moneter ataukah di sektor riil. Kalau mau cepat ya di sektor moneter, tetapi resikonya juga besar. Kunci untuk mumpuni disektor moneter adalah penguasaan teknologi informasi. karena di sektor moneter ini pada dasarnya yang diperjual belikan adalah informasi.

PENGARUH TEKNOLOGI TERHADAP GLOBALISASI

Menurut Toffler ada 3 gelombang teknologi yang mengakibatkan revolusi. Gelombang “0″ (nol) adalah masa manusia masih tergantung pada alam. Karena jumlah manusia masih sedikit sedangkan alam masih luas. Untuk makan manusia tinggal memetik buah dari pohon yang ada. Ketika jumlah orang bertambah, maka orang mulai mencari cara untuk bisa menghasilkan makanan. Dicari teknologinya dan akhirnya ketemu, yaitu “Teknologi Cocok Tanam”. Mulai saat itu, entah berapa ribu tahun yang lalu, manusia mulai mengenal peradaban (civilization), hidup dalam komunitas, saling membantu dan bersama menghasilkan makanan. Eranya disebut revolusi pertanian. Pada era ini yang penting adalah “tenaga”, yaitu untuk menggarap sawah. Ketika jumlah manusia terus bertambah, orang mulai ingin bertambah makmur, maka orang mulai mencari cara untuk menemukan alat penghasil “tenaga”, agar dapat menggantikan tenaga manusia yang terbatas. Akhirnya pada abad 18 lahirlah revolusi industri. Revolusi ini pada dasarnya ialah penemuan “teknologi mesin penghasil tenaga”, baik mesin uap, mesin diesel, mesin bensin dll, intinya sama : alat penghasil tenaga. Membuat mesin diperlukan “otak”, maka pada masa ini orang mulai menghargai pentingnya otak. Pada masa ini universitas2 di negara barat berkembang, baik Oxford, Cambridge, Harvard dll. Ketika orang mengerti pentingnya otak, maka orangpun mulai mencari cara untuk menemukan alat penghasil “otak”. Akhirnya ketemu, yaitu teknologi komputer, yang dikembangkan sekitar tahun 1945. Sehingga dimulailah era revolusi informasi. Pada era informasi, mulailah berkembang teknologi roket, satelit, celular, internet dll. Di dunia, masih ada orang yang nomaden, hidupnya tergantung pada alam, mencari makan di hutan. Juga ada orang yang hidup dengan era revolusi pertanian, yaitu orang yang hidup didesa, yang masih beranggapan sekolah tak penting, yang penting bisa kerja di sawah. Orang yang hidup di era revolusi pertanian, tentu saja lebih makmur daripada yang hoidup di era gelombang 0. Selanjutnya, orang kota, umumnya hidup dengan pola pikir era revolusi industri. Orang2 ini lebih makmur dan lebih powerful dibandingkan dengan orang era revolusi pertanian yang cari makan dengan mmengandalkan tenaga, orang era revolusi industri cari makan dengan mengandalkan otak, kemampuannya 10x lebih kuat. Perbandingan : orang yang cari makan dengan mengandalkan tenaga, contohnya tukang becak, buruh tani, maka UMR 500 rb sebulan, sedangkan yang cari makan dengan mengandalkan otak, misal dokter, dosen, notaris, insinyur, penghasilan 5 jt/bln sudah wajar. Jadi 10xnya. Selanjutnya orang yang hidup di era revolusi informasi, yang hidup dengan memanfaatkan teknologi informasi secara maksimal, contohnya para pialang saham, maka penghasilan 500 jt/bln sudah biasa (pialang saham di wallstreet contohnya), maka perbandingan penghasilan : org di era rev pertanian : orang di era rev industri : orang di era rev informasi = 1 : 10 : 1000. Betul? Ada komentar?